Resiko Memilih Tabungan

Mayoritas kelas menengah pilih menanamkan simpanan didalam tabungan, berdasarkan sejumlah survei terbaru. Keamanan jadi alasannya. Padahal, bunga tabungan yang terlalu kecil, bahkan makin rendah dari inflasi, menjadikan tabungan punya beberapa risiko. Di buku “Rising Middle Class in Indonesia“, menjelaskan hampir 90% dari kelas menengah menanamkan simpanan didalam tabungan. Studi yang kian baru tahun 2013 dari majalah Swa mengungkapkan hasil yang sama.

Tabungan dipunya oleh 90% kelas menengah, sedangkan instrumen investasi lainnya, semacam emas, obligasi serta saham, dipunya tak sampai sebagian kelas menengah. Menempatkan di tabungan bukannya belum perlu. Tabungan dibutuhkan tuk dana darurat dan kebutuhan sehari-hari.

Tapi, porsi tabungan bukanlah yang menonjol. Instrumen investasi, semacam properti, emas dan yang lainnya, yang sepatutnya dominan didalam portfolio simpanan. Bunga tabungan sekarang tak sampai 3% setahun. Sedikit rendah dari pada inflasi yang sudah 5% setahun.

Boro-boro memenuhi harapan investasi, menaklukan inflasi saja, tabungan telah menganga. Padahal harapan investasi, semacam pensiun, kesehatan, pendidikan, traveling dan lain-lain, nyaris tak bisa dicapai tidak lebih dari keuntungan senilai inflasi. Mengapa ini terlaksana di kelas menengah yang semestinya paling paham tentang keuangan. Mengapa mereka memilih menempatkan di tabungan daripada investasi yang lain?

Survei Mark Plus mengungkapksn kelas menengah pilih tabungan sebab dipandang paling aman, tersedia jaminannya dari pemerintahan. Walaupun, mereka paham, bunga tabungan rendah. Resiko dipandang sedikit penting daripada keuntungan didalam berinvestasi. Profit rela dikorbankan demi privasi atas resiko yang diasumsikan rendah.

Tabungan Ada Risikonya

Pemahaman jika menanamkan di tabungan tersebut aman, tidak ada resiko, itu salah. Kepercayaan yang sangat keliru. Walaupun ada jaminan dari pemerintahan lewat Lembaga Penjamin Simpanan atas tabungan perbankan, terdapat risiko lain yang bersumber dari tabungan yang kerap luput dari atensi. Pertama, akibat keuntungan tabungan rendah, harapan investasi amat mungkin menjadi tak tercapai. Seperti, biaya pendidikan yang diprediksikan naik kira-kira 20% satu tahun di Indonesia takkan mungkin dikejar bagi tabungan yang cuma memberikan bunga 3% dalam setahun.

Meskipun nilai uangnya stabil, tapi jika tabungan tak bisa merealisasikan harapan berinvestasi, tuk apa menanamkan dana disana. Akibat, keinginan menghindari resiko, muncul resiko lain, yang bahkan lebih besar, yakni gagalnya menduduki tujuan. Bila ingin mendapat keuntungan, maka musti berani mengambil resiko. Tak mungkin untung tiada adanya resiko. Pemahaman ini yang sewajarnya hilang dari kelas menengah. Maka dari itu, keamanan didalam tabungan jadi diagung-agungkan.

Kedua, kehilangan daya beli uang sebab bunga tabungan tak cukup mengimbangi naiknya harga barang yang makin tinggi. Dulu ketika bunga tabungan cukup tinggi, menempatkan di tabungan ataupun deposito masih mendapat imbalan yang sedikit tinggi dari laju biaya barang. Saat ini, tak lagi. Turunnya bunga tabungan menjadikannya lebih rendah dibanding inflasi. Nilai uang didalam tabungan merosot dari kenaikkan harga barang.

Ketiga, lantaran bunga rendah, total dana yang musti disisihkan tuk ditempatkan didalam tabungan jadi besar, agar bisa tetap mendapatkan harapan investasi. Kerapkali, ini jadi risiko sendiri, sebab tak gampang menyisihkan uang yang sedikit besar setiap bulannya. Dampaknya, bukannya ingin aman, total dana yang ditabung tak sesuai dari semestinya, hingga ujungnya tujuan jadi tak tercapai.

Leave a Reply

Your email address will not be published.